MAHALNYA SEBUAH “TEGUR SAPA”
Sebuah bangsa
yang maju dan berkembang ditandai oleh pendidikan generasi penerusnya.
Pendidikan yang dimaksud bukan hanya dalam konteks pendidikan secara formal
semata, melainkan kepada pendidikan moral dan akhlaknya. Banyak generasi yang
pintar dan berhasil secara “tertulis” (kuantitatif), namun keberhasilan
tersebut belum didukung oleh keberhasilannya bersosialisasi dan berinteraksi di
lingkungan sosial. Sebab, dengan berinteraksi dan bersosialisasi kita dapat
berkomunikasi dan menjalin silaturrahmi dengan orang lain. Meski sepele, namun
hal ini jauh berdampak dan menentukan keberhasilan “sejati” bagi generasi
(pemuda pemudi) untuk masa mendatang.
Orang tua dan
guru-guru dari zaman dahulunya hingga sekarang telah mengajarkan akan
pentingnya bersosialisasi dan komunikasi dengan orang lain. Sosialisasi dan
komunikasi tersebut tentunya diawali dengan tegur sapa, atau sekedar senyum
simpul yang manis, yang benar-benar menggambarkan ketimuran bangsa Indonesia.
Sejarah juga telah membuktikan bahwa masyarakat Indonesia di mata dunia adalah
masyarakat yang ramah-tamah, mudah bergaul.
Tegur sapa pada
intinya adalah suatu pernyataan awal seseorang untuk dapat melakukan komunikasi
dengan orang lain. Tujuan dari tegur sapa tersebut tidak lain adalah agar
seseorang lawan bicara yang akan kita ajak berkomunikasi tersebut dapat
merespon apa yang kita sampaikan. Begitu mudahnya tegur sapa tersebut, tetapi
kenyataannya di dunia nyata ataupun dunia maya kenapa justru sulit sekali untuk
mempraktekkannya. Apalagi di kalangan pelajar dan remaja kita saat ini, tegur
sapa seolah-olah menjadi momok yang memalukan atau bahkan sesuatu yang begitu
berat sekali. Apakah sudah sejauh itu terkikisnya budaya tegur sapa masyarakat
kita, Indonesia?
Remaja atau
pelajar zaman sekarang, bertegur saja hanya pada orang yang mereka kenal dan
hanya pada guru yang pernah dan sedang mengajarnya saja. Di luar daripada itu,
para remaja dan pelajar kita terkesan cuek dan merasa tidak mau tahu dengan
keberadaan orang baru yang ada di lingkungan sekitarnya. Padahal, baik di
sekolah ataupun di rumah pengajaran dan pembelajaran tentang hal tersebut sudah
dari sejak lama kita peroleh. Begitu sulitkah untuk mengungkapkan satu atau dua
kata; “Hai, Pak, Bu, atau dengan mengucapkan kata Assalamu’alaikum, pagi (siang,
sore) Pak, Bu, atau sekedar senyum simpul saja?
Yang mirisnya
lagi, mantan siswa tidak mau menegur guru yang pernah mengajarkan ilmu
kepadanya. Seakan siswa sekarang malu dan tidak mau tahu dengan keberadaan orang
yang pernah singgah dan mempengaruhi hidupnya. Atau mungkin karena sudah besar
atau menjadi orang yang berhasil, maka menegur guru akan menjatuhkan harga diri
atau apalah namanya. Di sisi lain, bagaimana pula kita dapat mengetahui
seseorang itu baik atau buruk jika tidak dengan melakukan tegur sapa terlebih
dahulu?
Saat ini,
kegiatan tegur sapa yang digandrungi oleh para remaja kita adalah melalui dunia
maya di berbagai Sosial media seperti Facebook dan Twitter serta bentuk
lainnya. Meskipun layanan yang ada pada internet tersebut disediakan untuk
semua orang dalam berinteraksi atau bersosial dengan sesama, namun pada
dasarnya kegiatan tersebut dilakukan tanpa bertatap muka dan saling sapa secara
nyata.
Berhubungan di social
media meskipun banyak manfaatnya seperti dapat memperoleh teman baru dan menemukan
atau dapat melakukan kontak kembali dengan kerabat atau keluarga yang sudah
lama tak berhubungan, mempermudah mengakses informasi dan berbagai ilmu pengetahuan,
akan tetapi juga membawa kita kepada golongan yang candu, yaitu candu
eksistensi, candu permainan, dan lain sebagainya. Kemudahan bersosial dan
‘berselancar’ di internet ternyata selain telah memanjakan masyarakat dalam
komunikasi, tetapi juga menjadikan kita masyarakat yang asosial.
Kenapa dengan sosial
media kita menjadi masyarakat yang asosial? Jawabannya sangat simple, secara
tidak langsung kita telah mengikis dan menghilangkan budaya tegur sapa dan tatap
muka di dunia nyata. Pasalnya, dengan berhubungan di sosial media dan chatting
melalui jejaring sosial kita sudah merasa lebih dari cukup untuk bersosial.
Akan tetapi, coba kita ingat dan renungkan bahwa dalam sehari sudah berapa kali
kita dapat bertegur sapa serta bertatap muka dengan keluarga dan kerabat kita
secara langsung?
Manusia sebagai
makhluk sosial, dengan bertegur sapalah kita dapat menghidupkan dan
meningkatkan tali silaturrahmi di antara sesama. Silaturrahmi itu baik di
antara sesama keluarga, umat beragama maupun dengan yang berlainan agama, sesama
suku bangsa, ras, warna kulit maupun yang berbeda. Melalui bertegur sapalah
semua komunikasi tersebut dapat terwujud, baik di dunia nyata maupun di dunia
maya (internet) yang sedang digandrungi masyarakat kita saat ini.
Nah, sebagai
remaja Indonesia, sudah tentu kita mengetahui bagaimana caranya bertegur sapa
dengan orang lain, baik itu orang tua, guru maupun teman, dengan adanya tegur
sapa ini kita bisa menghidupkan tali silaturrahim antar sesama umat. Untuk
bertegur sapa kita tidak harus terikat dengan aturan-aturan yang rumit. Yang
penting dalam tegur sapa atau tatap muka tersebut adalah sopan, tidak kasar,
dan tidak menyinggung perasaan orang lain.
Kebiasaan yang
lumrah dilakukan masyarakat kita dalam bertegur sapa atau bertatap muka adalah
dengan mengucapkan kata pembuka seperti; salam, hai, apa kabar, Pak, Buk, Om,
tante, dan bentuk sapaan lainnya. Kendatipun kata-kata pembuka dan sapaan di
atas tidak akan terucapkan atau terlontarkan, maka alangkah baiknya kita
keluarkan sebuah senyuman manis yang dapat mewakili terjadinya tegur sapa dan
tatap muka tadi. Bukankah sebuah senyuman itu bernilai ibadah di mata Allah
SWT. Lalu, kenapa sebuah tegur sapa itu begitu mahalnya bagi masyarakat kita
untuk diucapkan.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar