Kamis, 19 Juli 2018

MAHALNYA SEBUAH “TEGUR SAPA”


MAHALNYA SEBUAH “TEGUR SAPA”



Sebuah bangsa yang maju dan berkembang ditandai oleh pendidikan generasi penerusnya. Pendidikan yang dimaksud bukan hanya dalam konteks pendidikan secara formal semata, melainkan kepada pendidikan moral dan akhlaknya. Banyak generasi yang pintar dan berhasil secara “tertulis” (kuantitatif), namun keberhasilan tersebut belum didukung oleh keberhasilannya bersosialisasi dan berinteraksi di lingkungan sosial. Sebab, dengan berinteraksi dan bersosialisasi kita dapat berkomunikasi dan menjalin silaturrahmi dengan orang lain. Meski sepele, namun hal ini jauh berdampak dan menentukan keberhasilan “sejati” bagi generasi (pemuda pemudi) untuk masa mendatang.
Orang tua dan guru-guru dari zaman dahulunya hingga sekarang telah mengajarkan akan pentingnya bersosialisasi dan komunikasi dengan orang lain. Sosialisasi dan komunikasi tersebut tentunya diawali dengan tegur sapa, atau sekedar senyum simpul yang manis, yang benar-benar menggambarkan ketimuran bangsa Indonesia. Sejarah juga telah membuktikan bahwa masyarakat Indonesia di mata dunia adalah masyarakat yang ramah-tamah, mudah bergaul.
Tegur sapa pada intinya adalah suatu pernyataan awal seseorang untuk dapat melakukan komunikasi dengan orang lain. Tujuan dari tegur sapa tersebut tidak lain adalah agar seseorang lawan bicara yang akan kita ajak berkomunikasi tersebut dapat merespon apa yang kita sampaikan. Begitu mudahnya tegur sapa tersebut, tetapi kenyataannya di dunia nyata ataupun dunia maya kenapa justru sulit sekali untuk mempraktekkannya. Apalagi di kalangan pelajar dan remaja kita saat ini, tegur sapa seolah-olah menjadi momok yang memalukan atau bahkan sesuatu yang begitu berat sekali. Apakah sudah sejauh itu terkikisnya budaya tegur sapa masyarakat kita, Indonesia?
Remaja atau pelajar zaman sekarang, bertegur saja hanya pada orang yang mereka kenal dan hanya pada guru yang pernah dan sedang mengajarnya saja. Di luar daripada itu, para remaja dan pelajar kita terkesan cuek dan merasa tidak mau tahu dengan keberadaan orang baru yang ada di lingkungan sekitarnya. Padahal, baik di sekolah ataupun di rumah pengajaran dan pembelajaran tentang hal tersebut sudah dari sejak lama kita peroleh. Begitu sulitkah untuk mengungkapkan satu atau dua kata; “Hai, Pak, Bu, atau dengan mengucapkan kata Assalamu’alaikum, pagi (siang, sore) Pak, Bu, atau sekedar senyum simpul saja?
Yang mirisnya lagi, mantan siswa tidak mau menegur guru yang pernah mengajarkan ilmu kepadanya. Seakan siswa sekarang malu dan tidak mau tahu dengan keberadaan orang yang pernah singgah dan mempengaruhi hidupnya. Atau mungkin karena sudah besar atau menjadi orang yang berhasil, maka menegur guru akan menjatuhkan harga diri atau apalah namanya. Di sisi lain, bagaimana pula kita dapat mengetahui seseorang itu baik atau buruk jika tidak dengan melakukan tegur sapa terlebih dahulu?
Saat ini, kegiatan tegur sapa yang digandrungi oleh para remaja kita adalah melalui dunia maya di berbagai Sosial media seperti Facebook dan Twitter serta bentuk lainnya. Meskipun layanan yang ada pada internet tersebut disediakan untuk semua orang dalam berinteraksi atau bersosial dengan sesama, namun pada dasarnya kegiatan tersebut dilakukan tanpa bertatap muka dan saling sapa secara nyata.
Berhubungan di social media meskipun banyak manfaatnya seperti dapat memperoleh teman baru dan menemukan atau dapat melakukan kontak kembali dengan kerabat atau keluarga yang sudah lama tak berhubungan, mempermudah mengakses informasi dan berbagai ilmu pengetahuan, akan tetapi juga membawa kita kepada golongan yang candu, yaitu candu eksistensi, candu permainan, dan lain sebagainya. Kemudahan bersosial dan ‘berselancar’ di internet ternyata selain telah memanjakan masyarakat dalam komunikasi, tetapi juga menjadikan kita masyarakat yang asosial.
Kenapa dengan sosial media kita menjadi masyarakat yang asosial? Jawabannya sangat simple, secara tidak langsung kita telah mengikis dan menghilangkan budaya tegur sapa dan tatap muka di dunia nyata. Pasalnya, dengan berhubungan di sosial media dan chatting melalui jejaring sosial kita sudah merasa lebih dari cukup untuk bersosial. Akan tetapi, coba kita ingat dan renungkan bahwa dalam sehari sudah berapa kali kita dapat bertegur sapa serta bertatap muka dengan keluarga dan kerabat kita secara langsung?
Manusia sebagai makhluk sosial, dengan bertegur sapalah kita dapat menghidupkan dan meningkatkan tali silaturrahmi di antara sesama. Silaturrahmi itu baik di antara sesama keluarga, umat beragama maupun dengan yang berlainan agama, sesama suku bangsa, ras, warna kulit maupun yang berbeda. Melalui bertegur sapalah semua komunikasi tersebut dapat terwujud, baik di dunia nyata maupun di dunia maya (internet) yang sedang digandrungi masyarakat kita saat ini.
Nah, sebagai remaja Indonesia, sudah tentu kita mengetahui bagaimana caranya bertegur sapa dengan orang lain, baik itu orang tua, guru maupun teman, dengan adanya tegur sapa ini kita bisa menghidupkan tali silaturrahim antar sesama umat. Untuk bertegur sapa kita tidak harus terikat dengan aturan-aturan yang rumit. Yang penting dalam tegur sapa atau tatap muka tersebut adalah sopan, tidak kasar, dan tidak menyinggung perasaan orang lain.
Kebiasaan yang lumrah dilakukan masyarakat kita dalam bertegur sapa atau bertatap muka adalah dengan mengucapkan kata pembuka seperti; salam, hai, apa kabar, Pak, Buk, Om, tante, dan bentuk sapaan lainnya. Kendatipun kata-kata pembuka dan sapaan di atas tidak akan terucapkan atau terlontarkan, maka alangkah baiknya kita keluarkan sebuah senyuman manis yang dapat mewakili terjadinya tegur sapa dan tatap muka tadi. Bukankah sebuah senyuman itu bernilai ibadah di mata Allah SWT. Lalu, kenapa sebuah tegur sapa itu begitu mahalnya bagi masyarakat kita untuk diucapkan.



















 









Tidak ada komentar:

Posting Komentar