Kamis, 19 Juli 2018

JUMLAH LEUKOSIT DAN RASIO HETEROFIL/LIMFOSIT (H/L) PADA BERBAGAI AYAM SENTUL PERIODE PERTUMBUHAN


ABSTRAK
Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui perbedaan jumlah leukosit dan rasio heterofil/limfosit (H/L) pada berbagai ayam sentul periode pertumbuhan. Penelitian dilaksanakan mulai tanggal 4 Oktober 2014 sampai dengan tanggal 4 Desember 2014, bertempat di Experimental Farm, Fakultas Peternakan, Universitas Jenderal Soedirman, Purwokerto dan Laboratorium Patologi Klinik, Fakultas Kedokteran Hewan, Universitas Gadjah Mada, Yogyakarta. Materi penelitian menggunakan ayam Sentul periode pertumbuhan sebanyak 125 ekor. Metode penelitian adalah eksperimental menggunakan Rancangan Acak Lengkap (RAL), sebagai perlakuan adalah berbagai ayam Sentul, terdiri atas : Sa (Sentul abu), Sb (Sentul batu), Sd (Sentul debu), Se (Sentul emas), Sg (Sentul Geni). Peubah yang diamati adalah jumlah leukosit dan rasio heterofil/limfosit (H/L). Hasil penelitian menunjukkan bahwa jumlah leukosit berkisar antara 6370 ± 956,2949 sel/µl sampai 8000 ± 2605,7628 sel/µl, dan rasio heterofil/limfosit H/L berkisar 0,8445 ± 0,3305 sampai 1,8340 ± 1,4913. Data dianalisis dengan analisis variansi. Hasil analisis variansi menunjukkan berbagai ayam Sentul berpengaruh tidak nyata (P>0,05) terhadap jumlah leukosit dan rasio heterofil/limfosit (H/L). Kesimpulan penelitian ini adalah berbagai ayam Sentul periode pertumbuhan memiliki jumlah leukosit dan rasio heterofil/limfosit (H/L) yang relatif sama.
Kata kunci : leukosit, rasio heterofil/limfosit (H/L), ayam Sentul
ABSTRACT
The aim of this research was to study the difference of number of leukocytes and heterophile/lymphocytes ratio (H/L) in growing periode of Sentul chickens. Started in October 4th to December 4th, 2014, took place in Experimental Farm, Faculty of Animal Science, Jenderal Soedirman University, Purwokerto, Central Java, and the Laboratory of Pathologycal Clinic, Faculty of Veterinary Medicine, Gadjah Mada University, Yogyakarta. The material of this research was 125 of Sentul Chickens in growing periode. The method was experimental, using competely randomized design, as the treatments were various of Sentul chicken, which consisted : Sa (Sentul abu), Sb (Sentul batu), Sd (Sentul debu), Se (Sentul emas), Sg (Sentul Geni). The observed variables was the number of leukocytes and heterophile/lymphocytes ratio (H/L). Result showed that the number of leukocytes ranged in 6370 ± 956,2949 sel/µl to 8000 ± 2605,7628 sel/µl, heterophile/lymphocytes ratio (H/L) ranged in 0,8445 ± 0,3305 to 1,8340 ± 1,4913. The results analyzed using analysis of variance. The result of analysis  varianses showed, there was no significant effect of various Sentul chickens (P>0,05) on the number of leukocytes and heteophile/lymphocytes ratio (H/L). The conclusions it, the varians of Sentul chickens showed the number of leukocytes and heterophile/lymphocytes (H/L) relatively the same.
Keywords : leukocytes, heterophile/lymphocytes (H/L), Sentul chickens.
PENDAHULUAN
Ayam Sentul merupakan ayam asli Kabupaten Ciamis yang hampir punah dan sekarang dipelihara secara intensif oleh beberapa kelompok pecinta ayam sentul (Kurnia, 2011). Ciri khas ayam Sentul adalah warna bulunya didominasi oleh warna abu-abu baik pada jantan maupun betina (Nataamijaya dkk, 1993). Berdasarkan warna bulunya, ayam Sentul dapat digolongkan menjadi 5 macam jenis ayam Sentul di antaranya ayam Sentul geni, Sentul batu, Sentul kelabu, Sentul debu, dan Sentul emas (meyliyana dkk, 2013).
Kesehatan ternak merupakan salah satu faktor yang mempengaruhi produktivitas ternak, dan salah satu yang berpengaruh pada kesehatan tersebut adalah leukosit. Gambaran leukosit dari seekor ternak dapat dijadikan sebagai salah satu indikator terhadap penyimpangan fungsi organ atau infeksi agen infeksius, dan benda asing serta untuk menunjang diagnosa klinis (Frandson, 1992). Leukosit berfungsi untuk melindungi tubuh terhadap kuman-kuman penyakit yang menyerang tubuh dengan cara fagosit, dan menghasilkan antibodi (Junguera, 1997). Peningkatan atau penurunan jumlah leukosit dalam sirkulasi darah dapat diartikan sebagai hadirnya agen penyakit, peradangan, penyakit autoimun atau reaksi alergi, untuk itu perlu diketahui gambaran normal leukosit pada setiap individu (Nordenson, 2002).
Indikator ketahanan tubuh sebagai bentuk respon ayam terhadap faktor-faktor penyebab cekaman dapat diketahui dari komponen darah seperti rasio heterofil/limfosit (H/L) (Widjajakusuma dan Sikar, 1986). Mogement dan Youbicier-Simo (1998) menyatakan rasio H/L merupakan indikator stres yang paling mudah diketahui secara dini. Kusnadi (2008) menyatakan semakin tinggi angka rasio maka semakin tinggi pula tingkat cekaman sebagai bentuk stres pada unggas.
Menurut Dellmann dan Brown (1992), adanya fluktuasi jumlah total leukosit pada tiap individu cukup besar pada kondisi tertentu, misalnya stres, aktivitas fisiologis, gizi, umur, spesies dan lain-lain, sehingga perlu diketahui gambaran jumlah leukosit dan rasio heterofil/limfosit (H/L) pada setiap individu. Berdasarkan hal tersebut di atas, maka dilakukan penelitian dengan tujuan untuk mengukur pengaruh berbagai ayam Sentul terhadap kekebalan tubuh dan tingkat stres dengan mengamati perbedaan jumlah leukosit dan rasio heterofil/limfosit (H/L).
METODE
Materi penelitian menggunakan ayam Sentul periode pertumbuhan sebanyak 125 ekor. Pakan yang digunakan adalah pakan ayam buras A 03915 dari PT Cargill bentuk butiran dengan komposisi : jagung kuning, bungkil kedelai, tepung ikan, tepung daging, dedak, pollard, vitamin, trace mineral, antioksidan serta memiliki kandungan nutrien kadar air 12%, protein 13%, lemak 6%, serat kasar 8%, abu 12%, energi metabolis 2150 Kcal/Kg. Peralatan yang digunakan meliputi kandang litter sebanyak 25 unit sebagai kandang perlakuan yang dilengkapi dengan tempat pakan dan tempat minum, sprayer, timbangan digital, termometer, lampu pijar, sedangkan bahan yang digunakan adalah kapur, sekam padi, dan bahan fumigasi kandang. Pemeriksaan jumlah leukosit dan rasio heterofil limfosit (H/L) meliputi alat dan bahan sebagai berikut : sampel darah 3 ml, es batu, termos, kapas, alkohol 70%, betadine, akuades, methanol, anti koagulan EDTA, larutan giemsa 10%, gelas ukur, spuit 3 ml, tabung vacuntainer, alat hitung, mikroskop, dan gelas obyek.
Metode penelitian adalah eksperimental menggunakan Rancangan Acak Lengkap (RAL), sebagai perlakuan adalah Berbagai ayam sentul, terdiri atas : Sa (Sentul abu), Sb (Sentul batu), Sd (Sentul debu), Se (Sentul emas), Sg (Sentul geni). Setiap jenis ayam Sentul diulang 5 kali, sehingga dibutuhkan 25 unit percobaan, tiap unit di isi 5 ekor ayam sentul masing-masing jenis sehingga melibatkan 125 ekor ayam sentul. Pengambilan sampel darah dilakukan secara acak pada ayam Sentul betina sebanyak 1 ekor setiap jenis. Data penelitian yang diperoleh ditabulasikan, kemudian dianalisis menggunakan analisis variansi.
Prosedur pengukuran leukosit dengan cara : (1) menghisap sampel darah dengan pipet leukosit sampai 0,5, (2) kemudian menambahkan reagen turk sampai angka 11, (3) mencampurkan sampai homogen dengan memutarkan pipet membentuk angka delapan, (4) meneteskan sampel yang telah homogen dikanan atau kiri kamar hitung, (5) melihat dan menghitung dengan menggunakan mikroskop perbesaran 10x, (6) menghitung jumlah leukosit menggunakan rumus (leukosit hitung x 10 x 20)/4.
Pengukuran heterofil dan limfosit :
Pembuatan Preparat Apus Darah dengan Gelas Obyek dengan cara : (1) mencampurkan sampel darah dengan baik sebelum diambil dengan pipet kapiler/batang gelas, satu tetes kecil darah diletakkan dekat dengan ujung gelas (2) menempatkan gelas obyek yang kedua dengan bagian ujung menyentuh permukaan gelas obyek yang pertama sehingga membentuk sudut 30-45°, (3) menarikkan gelas obyek ke samping dan membiarkan darah mengalir dengan daya kapiler, sehingga mencapai 2/3 bagian gelas obyek, (4) membiarkan preparat apus mengering di udara terbuka, (5) pengeringan tidak boleh dengan cara pemanasan atau peniupan, sebaiknya dengan cara mengangin-anginkan preparat yang kita pegang.
Proses pewarnaan tidak boleh lebih dari satu jam setelah pembuatan preparat apus untuk mendapatkan hasil yang lebih baik. Pewarnaan Giemsa dengan cara : (1) memfiksir preparat apus darah dengan methanol selama 3-5 menit, (2) membiarkan preparat mengering diudara terbuka, (3) mengencerkan Giemsa 1:10 dengan akuades buffer atau dalam jumlah kecil juga dapat membuat dengan perbandingan 1 tetes pewarna dalam 1 ml akuades buffer, (4) merendamkan preparat yang telah kering ke dalam larutan giemsa yang baru dibuat selama 15-60 menit, (5) mencuci preparat dengan akuades dan membiarkan preparat mengering dirak, (6) mengamati di bawah mikroskop dengan pebesaran 100x dengan memilih bagian yang cukup tipis dan penyebaran leukosit merata, (7) menghitung diferensial leukosit menggunakan alat hitung.



HASIL DAN PEMBAHASAN
Hasil penelitian di peroleh rataan jumlah leukosit dan rasio heterofil/limfosit (H/L) pada berbagai ayam sentul periode pertumbuhan disajikan pada Tabel 1.

Tabel 1. Rataan jumlah leukosit dan rasio heterofil limfosit (H/L) absolut pada berbagai ayam Sentul betina periode pertumbuhan
Perlakuan
Jumlah Leukosit (sel/µl)
Rasio Heterofil Limfosit (H/L)
Sentul abu
8000 ± 2605,7628
1,8340 ± 1,4913
Sentul batu
7430 ± 2616,6773
1,1636 ± 0,7678
Sentul debu
6370 ± 956,2949
1,2513 ± 0,6692
Sentul emas
7880 ± 2521,3092
0,8445 ± 0,3305
Sentul geni
6370 ± 1953,0745
1,2688 ± 0,6899
Hasil penelitian menunjukkan bahwa rataan (Tabel 1) leukosit berkisar antara 6370-8000 sel/μl, rataan tersebut lebih rendah dari penelitian Jain (1993) yaitu jumlah leukosit ayam kampung berkisar antara 12.000-30.000 (sel/µl) dengan rataan sebesar 21.000 (sel/µl).  Hasil rataan (Tabel 1) rasio heterofil/limfosit (H/L) berkisar antara 0,8445-1,8340, rataan tersebut lebih tinggi dari hasil penelitian Toghyani et al. (2010) yaitu berkisar 0,3 - 0,4.
Jumlah Leukosit
Leukosit atau sel darah putih merupakan unit paling aktif dari sistem pertahanan tubuh karena berperan dalam melawan mikroorganisme penyakit, infeksi, dan benda asing (Guyton and Hall, 1997). Jumlah leukosit pada umumnya dipengaruhi oleh jumlah netrofil ataupun limfosit dalam sirkulasi darah, karena kedua jenis leukosit tersebut jumlahnya lebih banyak dibandingkan dengan leukosit tipe lain (Kelly, 1984). Netrofil dan monosit berespon dengan melakukan aktifitas fagositosis, sedangkan limfosit memproduksi antibodi (Swenson, 1984).
Hasil analisis variansi menunjukkan bahwa bahwa berbagai ayam Sentul berpengaruh tidak nyata (P>0,05) pada jumlah leukosit. Hal tersebut menunjukkan bahwa berbagai ayam Sentul tidak memberikan pengaruh terhadap jumlah leukosit. Genetik merupakan salah satu faktor penyebab perbedaan jumlah leukosit (Lestari dkk, 2013). Ayam Sentul memiliki keragaman genetik, yang ditunjukkan dengan keragaman warna bulu, akan tetapi warna bulu tersebut tidak menyebabkan perbedaan jumlah leukosit karena ayam Sentul masuh satu rumpung dengan ayam lokal lain (Zein dan Sulandari, 2009). Peningkatan jumlah leukosit (leukositosis) dapat terjadi secara fisiologik maupun patologik. Leukositosis yang fisiologik, dikarenakan respon fisiologik tubuh terhadap stres sebagai efek dari epinefrin misal stres emosi akut, panas atau dingin yang ekstrim. Leukosit yang patologik sering diikuti oleh peningkatan absolut dari salah satu atau lebih jenis leukosit yang  desebabkan oleh infeksi, peradangan, nekrosis jaringan dan gangguan metabolik (Frandson, 1992).
Dellmann and Brown (1992), serta Achmad, dkk (2012) menyatakan bahwa jumlah leukosit sangat tergantung pada umur, jenis kelamin, stres, penyakit, dan pemberian pakan atau obat tertentu. Menurut Lamount and Dietert (1990) faktor lingkungan mempunyai peranan sangat penting dalam sistem imun ternak, faktor lingkungan diantaranya adanya infeksi dan pakan. Menurut Subekti dkk. (2005), infeksi agen penyakit dalam tubuh menyebabkan terjadinya penurunan jumlah leukosit karena destruksi sel-sel tersebut oleh agen penyakit. Infeksi juga menyebabkan pergeseran proporsi komponen leukosit serta deplesi yang nyata pada jumlah netrofil, monosit, dan limfosit. Kusnadi (2009) menyatakan cekaman panas dapat menurunkan jumlah sel darah putih. Keadaan ini nampaknya ada kaitannya dengan kandungan limfosit pada sel darah putih. Pada ayam, bagian terbanyak dari sel darah putih adalah limfosit yang berperan dalam sistem kekebalan (Swenson , 1993). Kondisi cekaman mengakibatkan penurunan jumlah limfosit, sehingga meningkatkan rasio heterofil/limfosit (H/L) (Kusnadi et al., 2005).
Hasil rataan jumlah leukosit (Tabel 1) secara biologis menunjukkan ayam Sentul dengan jumlah leukosit tertinggi adalah Sentul abu sebesar 8000 (sel/µl). Apabila tubuh merespon ada benda asing seperti bakteri maupun virus yang masuk maka secara otomatis, tubuh akan memproduksi lebih banyak leukosit untuk mengantisipasi hal tersebut (Hillman et al., 2000). Peningkatan jumlah leukosit dapat digunakan sebagai indikasi adanya penyakit atau terjadinya suatu infeksi dalam tubuh (Guyton, 1996). Penyakit yang disebabkan oleh suatu agen penyakit intoksikasi baik secara endogen maupun eksogen, protein asing dan endokrin di dalam tubuh dapat mengakibatkan peningkatan yang signifikan pada darah, jumlah total leukosit dan diferensial leukosit (Schalm, et al., 1975).
Rasio Heterofil/Limfosit (H/L)
Widjajakusuma dan Sikar (1986) menyatakan bahwa indikator ketahanan tubuh sebagai bentuk respon ayam terhadap faktor-faktor penyebab cekaman dapat diketahui dari komponen darah seperti rasio heterofil limfosit (H/L), dan juga Kusnadi (2008) menyatakan bahwa rasio H/L merupakan indikator stres yang paling mudah diketahui secara dini, semakin tinggi angka rasio H/L maka semakin tinggi pula tingkat cekaman sebagai bentuk stres pada unggas.
Berdasarkan hasil analisis variansi menunjukkan bahwa jenis ayam Sentul berpengaruh tidak nyata (P>0,05) terhadap rasio H/L artinya bahwa secara statistik nilai rasio H/L tidak menunjukan adanya perbedaan antar perlakuan. Keanekaragaman genetik ayam Sentul dapat dilihat dari warna bulunya yang berbeda-beda. Namun, hal tersebut hanya menunjukkan adanya perbedaan fenotipe pada berbagai ayam Sentul. Fenotip warna bulu tidak mengakibatkan perbedaan rasio heterofil limfosit (H/L) karena masih dalam satu rumpun. Kusumawati (2003) menyatakan bahwa kondisi fisiologi tubuh dipengaruhi oleh faktor genetik dan faktor lingkungan, yang termasuk faktor genetik adalah bangsa dan faktor lingkungan adalah pakan, suhu, kelembaban, penyakit dan lain-lain.
Tingginya nilai rasio H/L, salah satu faktor penyebabnya terkait dengan efek pelepasan hormon glukokortikoid. Keberadaan reseptor glukokortikoid pada berbagai sel-sel pembentuk sel imun akan mengganggu fungsi nukleus faktor- kaffa B (NF-κB) yang mengatur gen pengaturan produksi sel-sel darah. Glukokortikoid menghambat proliferasi sel limfosit dan pembentukan beberapa jenis sitokin dan reseptornya, seperti IL-1 dan IL-2 serta juga menstimulasi sintesis molekul penghalang seperti lipokortin-1 dan reseptor IL-1 tipe II. Aktivitas glukokortikoid ini akhirnya dapat mengganggu fungsi dan produksi sel-sel imun, seperti sel limfosit (Gupta dan Lalchhandama, 2002; Padgett and Glaser, 2003; Mashaly et al., 2004).
Secara biologis ayam Sentul yang memiliki rataan rasio H/L tertinggi adalah ayam Sentul abu sebesar 1,8340. Menurut Kusnadi (2008) semakin tinggi angka rasio H/L maka semakin tinggi pula tingkat cekaman sebagai bentuk adaptasi terhadap lingkungan. Tingginya rasio H/L dapat terjadi karena cekaman panas atau terjadinya stes pada ayam. Menurut pendapat Kusnadi et al. (2005) dan Zulkifli et al. (2000) cekaman panas dan kondisi stres menyebabkan meningkatan rasio heterofil/limfosit (H/L) darah akibat terjadinya penurunan jumlah limfosit. Kusnadi (2009) menyatakan peningkatan rasio H/L tersebut karena penurunan jumlah limfosit yang jauh lebih besar dibandingkan penurunan jumlah heterofil darah.
SIMPULAN
Berbagai ayam Sentul periode pertumbuhan memiliki jumlah leukosit dan rasio heterofil/limfosit (H/L) yang relatif sama.
DAFTAR PUSTAKA
Achmad, H, R., Ida, W., Dewi, A, A. Fadjar, S. 2012. Tanggap Kebal dan Tampilan Produksi Ayam Pedaging yang Diberi Ekstrak Buah Mengkudu. Jurnal Veteriner. Institut Pertanian Bogor. Bogor.
Dellman, H. D., dan E. M. Brown. 1992. Histologi Veteriner. Terjemahan: R. Hartono. Universitas Indonesia Press, Jakarta.
Frandson, R. D. 1992. Anatomi dan Fisiologi Ternak Edisi ke-4. Gadjah Mada University Press: Yogyakarta.
Gupta, B.B.P., and K. Lalchhandama. 2002. Molecular mechanisms of glucocorticoid action. Curr. Sci. 83: 1103-1111.
Guyton, A.C. 1996. Buku Ajar Fisiologi Kedokteran. Edisi 17. Bagian 1. Ken Ariata Tengadi, Penerjemah. EGC. Terjemahan dari Texbook of MedicalPhysiology. pp. 65.
Guyton, A.C., John, E., Hall. 1997. Buku Ajar Fisiologi Kedokteran. Edisi 9. Irawati Setiawan, penerjemah. Jakarta. Penerbit Buku Kedokteran, ECG. Terjemahan dari : Text Book of Medical physiology.
Hillman, P.E., Scot, N.R., A. van Tienhoven, 2000. Physiological, Responses and Adaptations to Hot and Cold Environments. Di dalam Yousef MK, editor. Stress Physiology in Livestock. Volume 3, Pultry. Florida: CRC Pr. hal: 1-71.
Jain, N. C. 1993. Essential of Veterinary Hematology . Lea & Febiger, Philadelphia.
Junguera, L. C. 1977. Basic Histology. Ed ke-8. New York: Mc Graw-Hill.
Kelly, W. R. 1984. Veterinary Clinical Diagnosis. Ed ke-3. London: Bailiere Tindall.
Kurnia, Y. 2011. Morfometrik Ayam sentul, Kampung dan Kedu pada Fase Pertumbuhan dari Umur 1-12 Minggu. Skripsi. Program Alih Jenis. Departemen Produksi dan Teknologi Peternakan, Fakultas Peternakan, Institut Pertanian Bogor. Bogor.
Kusnadi, E., R. Widjajakusuma., T. Sutardi., and A. Habibie. 2005. Effect of Antanan (Centella asiatica) and Vitamin C on the Bursa of Fabricius, Liver Malonaldihide and Performance of Heat-Stressed Broilers. Biotropia 24: 46 – 53.
Kusnadi, E. 2008. Perubahan malonaldehida hati, bobot relatif bursa fabricius dan rasio heterofil/limfosit (H/L) ayam broiler yang diberi cekaman panas. Jurusan Produksi Ternak, Fakultas Peternakan, Universitas Andalas Padang Kampus Limau Manis, Padang.
Kusnadi, E. 2009. Pengaruh Berbagai Cekaman Terhadap Perubahan Beberapa Komponen dan Biokimia Darah Unggas. Fakultas Peternakan. Universitas Andalas Padang Kampus Limau Manis. Padang.
Kusumawati, N., Bettysri, L. J., Siswa, S., Ratihdewanti., dan Hariadi. 2003. Seleksi Bakteri Asam Laktat Indigenous sebagai Galur Probiotik dengan Kemampuan Menurunkan Kolesterol.  Journal Mikrobiologi Indonesia. Vol. 8(2): 39-43.
Lamount., and Dietert. 1990. Poultry Breeding and Genetics. Editor R.D. Craw Ford. Elsever. Developmant in Animal and Veterinary Science. Amsterdam.
Lestari, S. H. A., Ismoyowati., dan Mohandas, I. 2013. Kajian Jumlah Leukosit dan Diferensial Leukosit pada Berbagai Jenis Itik Lokal Betina yang Pakannya di Suplementasi Probiotik. Jurnal Ilmiah Peternakan. Vol. 1(2): 699-709. Fakultas Peternakan. Universitas Jenderal Soedirman. Purwokerto.
Mashaly, M.M., G.L. Hendricks., M.A. Kalama., A.E. gehad., A.O. Abbas., and P.H. Patterson. 2004. Effect of heat stress on production parameters and immune responses of commercial laying hens. Poult. Sci. 83: 889-894.
Meyliyana., Sigit. M., dan Roesdiyanto. 2013. Bobot Badan Berbagai Jenis Ayam Sentul di Gabungan Kelompok Tani Ternak Ciung Wanara Kecamatan Ciamis Kabupaten Ciamis. Jurnal Ilmiah Peternakan. Vol. 1(3): 985-992. Fakultas Peternakan. Universitas Jenderal Soedirman. Purwokerto.
Mogement, L.Y., Youicier-Simo, B.J. 1998. Determinaton  of reliable biochemical parameter of heat stress, and  application to the evaluation of medications : example of erythromycin E. pages 538-541 in Proceeding of 10th Eoropean Poultry Conference. Jerusalem. Israel.
Nataamijaya, A. G., Haryono, E., Sumantri, P., Sitorus, M., Kusni., Suhendar., and Subarna. 1993. Karakteristik morfologis delapan breed ayam bukan ras (Buras) langka. Seminar Nasional Pengembangan Ternak Ayam Buras melalui wadah Koperasi menyongsong PJPT II. Padjadjaran University. Indonesia.
Nordenson, N. J. 2002. White Blood Cell Count and Differential. http://www. Lifesteps.com/gm.Atoz/ency/white_blood_cell_count_and_differential.jsp. [Oktober 2014].
Padgett, D.A., and R. Glaser. 2003. How stress influences the immune response. Trends Immunol. 24: 444-448.
Schalm, O. W., E. J. Caroll., and N. C. Jain. 1975. Veterinery Hematology. 3rd. Ed Lea and Fibiger. Philadelphia.
Subekti, d.t., Tolibin. I., Eka. S. P. S., Dian. R. L., Rica. H., Eka. F. D., dan Dwi. R. W. 2005. Leukositopenia pada Mencit Setelah diinfeksi Toxoplasma Gondil dengan Dosis Tinggi dan Dosis Rendah. J. Bio. Indo. Vol. III, No. 10 : 420-430.
Swenson, M.J. 1993. Physiological Properties and Celluler and Chemical Constituent of Blood in Dukes Physiology of Domestic Animals, eleventh edition. Comstock Publishing Associates a division of Cornell University Press Ithaca and Londion. pp. 22 – 48.
Swenson, M. J. 1984, Dukes’ Physiology of Domestic Animals. Ed ke-10, Ithaca and London: Comstock Publishing Associates a division of Cornell University Press.
Toghyani, M., M. Tohidi, A., A. Gheisari., dan S. A. Tabeidian. 2010. Performance, Immunity, Serum Biochemical And Hematological Parameters In Broiler Chicks Fed Dietary Thyme As Alternative For An Antibiotic Growth Promoter. African Journal of Biotechnology. 9 (40):6819-6825.
Widjajakusuma, R., dan S. H. S. Sikar. 1986. Fisiologi Hewan. Institut Pertanian Bogor Press, Bogor.
Zein, M. S. A., dan S. Sulandri. 2009. Investigasi Asal Usul Ayam Indonesia Menggunakan Sekuens Hypervariable-1 D-loop DNA Mitokondria. Pusat Penelitian Biologi-LIPI. Bogor.
Zulkifi, I., Norma, M. T., Israf, D. A., Omar, A. R. 2000. The effect o early feed restriction on subsequent response to high enfironmental temperatures in female broiler chickens. Poult.Sci. 79:1401-1407.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar